Sabtu, 21 Februari 2015

Keep Your Cangkem

Dan bencana itu datang juga.
Beneran ya, mulutmu harimaumu. Seorang teman habis curhat karena rahasianya yang mau dia keep sendiri, beterbangan di mana-mana. Kayak ember bocor yang airnya berjatuhan di lantai.
Speechles juga. Bingung mau bantunya gimana.
Apa yang sudah ada di publik, sulit untuk dibendung lagi. Yang jelas saya prihatin (ala-ala presiden).
'Gw gak nyangka dia kayak gitu. Apa urusan dia dan untungnya apa dia nyebar-nyebar ke sana kemari.'
Pada saat ditanya seperti itu, saya cuma bisa berusaha menenangkan dia. Bukan apa-apa kalau dia marah sudah seperti Hulk. Khawatir meja dan kursi hancur sama dia. Gimana coba unit GA bisa beresin itu semua, satu rim kertas aja lama bener diadainnya (eh OOT).
Ya Allah, mudah-mudahan mulut ini terjaga dari ngemberin rahasia orang. Keep silent or not knowing anything. Gak usah kepo-kepo. Walaupun kepo is my middle name. Selain ngemberin sebaiknya jauh-jauh dari gossipin orang. Somewhere di akun insta orang, sebodoh-bodoh orang adalah menyebarkan segala yang dia dengar. Saya gak mau jadi bodoh, oleh karenanya i must keep my cangkem.Dan lagian ngomongin saudara sendiri juga sama aja kayak makan bangkai kan? kan? kan? (noyor-noyor kepala sendiri).
Pelajaran ini sungguh berharga. Meskipun gak terlibat juga. Dan kenapa juga akhirnya terlibat yak? (ah, tepok jidat).
Ssst.. better be silent or not knowing anything.
Mengenai teman saya tersebut, saya akan mendampinginya untuk mengklarifikasi kepada si tersangka pengember. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bocah ini kalau marah udah macam hulk. Isunya sensitif juga. Saya merasa berkewajiban ada di sana sebagai wasit.

Dipikir-pikir ini macam dilema SMA yah.. udah lama gak mengalami hal seperti ini.

Inhale Exhale
Mudah-mudahan semua ini bisa diselesaikan secara adat tanpa korban jiwa.


Note :
Cangkem : Mouth in javanese. The rude one. Better not using this word in daily life. esp. someone older than you.