Sabtu, 17 Januari 2015

satu..dua..tiga (pesawat)

Satu..dua..tiga
Tiga pesawat mengudara. Aku menerka-nerka di mana kamu berada. Pesawat yang berwarna biru itukah? Merahkah? Atau putihkah?

Satu..dua..tiga
Tiga pesawat yang lain siap lepas landas. Aku sedikit cemas. Kedua lututku terlunglai lemas.

Satu..dua..tiga
Tiga pesawat mendarat. Aku berdoa cepat-cepat. Semoga ada kamu terdapat.

Satu..dua..tiga
Tiga pesawat lain entah kemana. Masih berharap kamu ada di sana.

Satu..dua..tiga pesawat
Tak kan lelah meski terus berhitung hingga seribu pesawat. Kuharap awan di atas sana menyampaikan salamku, agar kau selalu selamat.

Satu..dua..tiga pesawat
Tiga pesawat akan segera hadir. Aku setia menunggu hingga waktu yang tertakdir.




awalnya tulisan ini dibuat karena terinspirasi oleh seorang teman yang menjalani LDR. kemudian setelah berita tentang musibah Air Asia, jadi teringat kembali akan tulisan ini.
melihat keluarga yang ditinggalkan sungguh memilukan.
mudah-mudahan senantiasa dikuatkan, dihebatkan, dan disabarkan oleh Tuhan YME.

Lepas Kendali




Saya belum pernah mengutarakan apa yang saya rasakan kepada orang lain secara blak-blakan. Baik kepada keluarga, teman-teman sepermainan, apalagi kepada orang yang lebih senior.
Entah ada angin dari mana, hari itu rasanya segala amarah sudah menumpuk. Akumulasi bertahun-tahun. Meledak lah.. ngokk
Saya menulis email sepanjang 3 halaman jika dikonversi kepada ms.word. Kayak novel pikir saya, tapi masa bodoh. Hal ini sungguh mengganggu...
Biasanya saya tipikal orang yang akan lama mengedit sana sini jika membuat surat complain. Memastikan bahasanya halus, selembut sutra, dan tidak menyakiti. Tapi hari itu langsung dikirim saja.
Mulai dari kata kesal, sebal, dendam, dll..keluar
Satu sisi saya merasa sungguh lega. Seperti pup setelah konstipasi 2 minggu. Plong
Di satu sisi, setelah 24 jam email tersebut terkirim, saya baru berpikir lebih jernih. What the heck am i doing?  Literally losing control. Yah, nasi sudah basi. Mau dikatakan apa lagi. Jaring-jaring tak bernama itu sudah menyampaikan pesan saya. 3 halaman ms.word. tanpa terjebak macet. Sampai, tidak sampai 5 menit. Duh!
Benar kata sebuah artikel, sebaiknya jika menuliskan email yang isinya hardcore, berpotensi konflik, ditunda sampai dengan keesokan harinya. Biasanya emosi hanya perlu disalurkan sesaat, tanpa pernah benar-benar marah. Tapi nasi benar-benar sudah jadi basi.
Menyampaikan kritik itu memang tidak dilarang. Sepanjang penyampaiannya baik dan bermaksud untuk membangun. Sampai saat itu, saya menenangkan hati bahwa ini adalah suatu pembelajaran. Benar atau salahnya relatif. Kemudian teringat dengan nasihat dari Mbake, hati akan cemas dan galau jika mengerjakan sesuatu yang salah atau tidak tepat. Yang akhirnya dapat dilakukan hanyalah beristighfar, mohon ampunan.
Bagaimanapun juga segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya.
Alloh hendak mengajari saya suatu hal, saya yakin itu.
Saat bertemu dengan orang tersebut, yang sebenarnya sangat saya hormati itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Syukurlah beliau menyempatkan waktu untuk mengajak saya bicara dan Subhanalloh betapa luasnya hati orang tersebut. Mudah-mudahan Alloh mudahkan dan senantiasa merahmatinya dalam segala hal. Kami pun saling memohon maaf dan yang membuat saya super happy adalah beliau mempertimbangkan keberatan saya terhadap sesuatu hal dan segera mengeksekusinya.
Semenjak hari itu, saya tidak akan bosan-bosannya untuk mengingati diri untuk lebih berhati-hati. Dan pun bila ada kesal dengan orang lain, jangan pernah segera meluapkannya. Tunggu sampai hati lebih tenang dan kepala lebih dingin. Mana tahu, di lain kesempatan dampaknya bisa merusak.
Ya Alloh, ampuni hamba atas kelemahan ini. Segala puji bagiMu yang mengizinkan hamba belajar dari setiap kejadian yang Engkau kirimkan.
Mudah-mudahan Engkau Ridho dan senantiasa menuntun hamba. Aamiin