Satu..dua..tiga
Tiga pesawat mengudara. Aku menerka-nerka di mana kamu berada. Pesawat yang berwarna biru itukah? Merahkah? Atau putihkah?
Satu..dua..tiga
Tiga pesawat yang lain siap lepas landas. Aku sedikit cemas. Kedua lututku terlunglai lemas.
Satu..dua..tiga
Tiga pesawat mendarat. Aku berdoa cepat-cepat. Semoga ada kamu terdapat.
Satu..dua..tiga
Tiga pesawat lain entah kemana. Masih berharap kamu ada di sana.
Satu..dua..tiga pesawat
Tak
kan lelah meski terus berhitung hingga seribu pesawat. Kuharap awan di
atas sana menyampaikan salamku, agar kau selalu selamat.
Satu..dua..tiga pesawat
Tiga pesawat akan segera hadir. Aku setia menunggu hingga waktu yang tertakdir.
awalnya tulisan ini dibuat karena terinspirasi oleh seorang teman yang menjalani LDR. kemudian setelah berita tentang musibah Air Asia, jadi teringat kembali akan tulisan ini.
melihat keluarga yang ditinggalkan sungguh memilukan.
mudah-mudahan senantiasa dikuatkan, dihebatkan, dan disabarkan oleh Tuhan YME.
Sabtu, 17 Januari 2015
Lepas Kendali
Saya belum pernah mengutarakan
apa yang saya rasakan kepada orang lain secara blak-blakan. Baik kepada
keluarga, teman-teman sepermainan, apalagi kepada orang yang lebih senior.
Entah ada angin dari mana, hari
itu rasanya segala amarah sudah menumpuk. Akumulasi bertahun-tahun. Meledak lah..
ngokk
Saya menulis email sepanjang 3
halaman jika dikonversi kepada ms.word. Kayak novel pikir saya, tapi masa
bodoh. Hal ini sungguh mengganggu...
Biasanya saya tipikal orang yang
akan lama mengedit sana sini jika membuat surat complain. Memastikan bahasanya halus, selembut sutra, dan
tidak menyakiti. Tapi hari itu langsung dikirim saja.
Mulai dari kata kesal, sebal,
dendam, dll..keluar
Satu sisi saya merasa sungguh
lega. Seperti pup setelah konstipasi 2 minggu. Plong
Di satu sisi, setelah 24 jam
email tersebut terkirim, saya baru berpikir lebih jernih. What the heck am i
doing? Literally losing control. Yah,
nasi sudah basi. Mau dikatakan apa lagi. Jaring-jaring tak bernama itu sudah
menyampaikan pesan saya. 3 halaman ms.word. tanpa terjebak macet. Sampai, tidak
sampai 5 menit. Duh!
Benar kata sebuah artikel,
sebaiknya jika menuliskan email yang isinya hardcore, berpotensi konflik,
ditunda sampai dengan keesokan harinya. Biasanya emosi hanya perlu disalurkan
sesaat, tanpa pernah benar-benar marah. Tapi nasi benar-benar sudah jadi basi.
Menyampaikan kritik itu memang
tidak dilarang. Sepanjang penyampaiannya baik dan bermaksud untuk membangun. Sampai
saat itu, saya menenangkan hati bahwa ini adalah suatu pembelajaran. Benar atau
salahnya relatif. Kemudian teringat dengan nasihat dari Mbake, hati akan cemas
dan galau jika mengerjakan sesuatu yang salah atau tidak tepat. Yang akhirnya
dapat dilakukan hanyalah beristighfar, mohon ampunan.
Bagaimanapun juga segala sesuatu
terjadi menurut kehendak-Nya.
Alloh hendak mengajari saya suatu
hal, saya yakin itu.
Saat bertemu dengan orang
tersebut, yang sebenarnya sangat saya hormati itu, saya tidak tahu harus
berbuat apa. Syukurlah beliau menyempatkan waktu untuk mengajak saya bicara dan
Subhanalloh betapa luasnya hati orang tersebut. Mudah-mudahan Alloh mudahkan
dan senantiasa merahmatinya dalam segala hal. Kami pun saling memohon maaf dan
yang membuat saya super happy adalah beliau mempertimbangkan keberatan saya
terhadap sesuatu hal dan segera mengeksekusinya.
Semenjak hari itu, saya tidak
akan bosan-bosannya untuk mengingati diri untuk lebih berhati-hati. Dan pun
bila ada kesal dengan orang lain, jangan pernah segera meluapkannya. Tunggu sampai
hati lebih tenang dan kepala lebih dingin. Mana tahu, di lain kesempatan
dampaknya bisa merusak.
Ya Alloh, ampuni hamba atas
kelemahan ini. Segala puji bagiMu yang mengizinkan hamba belajar dari setiap
kejadian yang Engkau kirimkan.
Mudah-mudahan Engkau Ridho dan
senantiasa menuntun hamba. Aamiin
Langganan:
Komentar (Atom)